PART 2 – RUMOR MENGATAKAN TENTANG NAMA EMAN

9:35 AM
Berberapa hari yang lalu saya mampir ke toko buku togamas, dengan niatan di dalam hati ingin mencari buku buku absurd karya pidi baiq, tidak lupa saya buat cerita (story) di instagram maupun whatshapp biar orang orang bisa tahu bahwa saya sedang ditoko buku, saya membuat demikian bukan tanpa alasan, saya ingin membangun image masyarakat terhadap saya itu menjadi POSITIF (+), karena sebelumnya masyarakat memandang saya itu orang yang MIRING (/), yang tentunya bukan NEGATIVE (-).

“Wah lihat tuh si eman, udah mah cakep rajin baca buku” ucap seorang masyarakat di pikiran saya

“Si eman emang pria idaman, suka baca buku pasti pinter” Ucap seorang masyarakat di pikiran saya lagi

“Tumben si eta maca buku? Pasti ngan saukur pamer, (Tumben si eman baca buku, pasti cuman untuk pamer)”. Ucap masyarat lagi yang JELAS bukan di pikiran saya

emantum
emantum
Begitulah kira kira pemikiran masyarakat ketika melihat story saya yang sedang di toko buku.

Namun semua bayangan yang ada dalam pikiran saya pecah seperti balon di tusuk jarum yang berbunyi “Dwar….”, ketika salah seorang temen saya mebalas whatsapp story saya :

“Eman kamu lagi di toko buku? HEHE” Ucap teman saya, sebut aja namanya marzuwi.

Firasat buruk saya muncul ketika melihat balasan temen saya tersebut, karena di akhiri dengan kata “HEHE” dengan hurup kapital. Sontak saja pikiran saya berfikir :

“Wah ieu mah pasti aya kahayang yeuh, moal salah deui, (wah ini mah pasti ada maunya nih, ga akan salah lagi”) Ucap saya dalam pikiran.

“Enya ieu keur di toko buku. (Iya ini lagi di toko buku)”. Ucap saya dalam whatsapp

“Banyak Rumor mengatakan, bahwa orang yang namanya eman itu baik banget orang nya”? Ucap marzuwi dalam whatsapp.

“Iyaa terus??” Ucap saya dalam whatsapp, dengan penuh kecurigaan atas maksud chat tersebut.

“Nggak, saya cuman mau memastikan saja, bener ga sih rumor yang mengatakan tentang nama eman itu oragnya baik banget. HEHE” Ucap marzuwi dalam whatsapp dengan penuh maksud, karena lagi lagi di akhiri dengan kata “HEHE” yang di tulis dengan hurup capital.

Setelah mendapatkan jawaban tersebut, seketika itu juga badan saya panas meriang, keringat dingin bercucuran, bahkan saya dapat merasakan jantung saya “Deug Deug’an / berdetak” Seperti bedug lebaran.

Lantas saya jawab :
“Iya terus?” Ucap saya dalam whatsapp, dengan rasa penuh cemas dan kegelisahan.

“Mau titip beliin buku, judulnya HIJRAH Itu Cinta” ucap marzuwi dalam whatsapp, sambil penuh dengan pengharapan

“Allhamdulillah,” Ucap saya dalam hati, dengan perasaan lega dan penuh syukur, karena saya takut sekali marzuwi meminta sesuatu yang tidak bisa saya sanggupi, seperti : Pindahin togamas ke majalaya, Buat roller koster di togamas, bahkan membuat togamas menjadi toko besi / matrial.

Bukan apa apa, saya takut saja rumor atas nama eman itu menjadi ancur gara gara hal yang tidak bisa saya sanggupi, bagaimana perasaan mereka? Orang dengan nama eman pendahulu sebelum saya? Coba bayangkan? Saya pikir mereka sama sekali tidak peduli. Karena saya yakin Rumor tentang nama eman itu hanyalah KEBOHONGAN Belaka, supaya apa yang dia inginkan terpenuhi.

“Iya siap” ucap saya lewat whatsapp kepada marzuwi, awalnya tidak peduli

“Berarti rumor yang mengatakan tentang nama eman itu benar adanya ya? Hehe” ucap marzuwi dengan penuh rasa kemenangan.

“Iya, itu tradisi yang diturunkan dari orang orang yang namanya eman sebelum saya” Ucap saya dalam whatsapp, sambil meyakinkan secara penuh. Walaupun saya tahu itu hanya kebohongan belaka.

“Iya iya terserah” Ucap marzuwi dalam whatsapp, dengan rasa penuh yang tidak peduli.

“Lah ko terserah sih?” Ucap saya dalam whatsapp, sambil bertanya tanya

“Orang saya ngarang, hahahaha” Ucap marzuwi dalam whatsapp dengan penuh kebahagiaan.

Mendengar ucapan tersebut saya seperti SKAK MAT!!! Tidak bisa bergerak kemana mana lagi
Seperti seorang raja yang akan menemui ajalnya dalam permainan catur, sontak saya berfikir :


“Mungkin dia rasa sangat cerdas dapat mengelabui saya dengan rumor nama eman buatannya, sehingga dia mendapati apa yang dia inginkan. Tetapi dia tidak sadar bahwa saya masih berada di toko buku” ucap pikran saya.

“Hahaha.. orang saya juga ngarang” Ucap saya kepada marzuwi melalui aplikasi Whatsapp, dengan penuh kemenangan.

“Hah? Maksudnya?” Ucap maruwi dalam whatsapp sambil penuh dengan tanda Tanya.

“Iyaa, saya juga ngarang mau beliin kamu buku, sama seperti kamu ngarang terhadap rumor tentang nama eman”. Ucap saya dalam whatsapp sambil penuh pembalas dendaman.

“Ih jahat, dasar semua cowok sama saja” Ucap dia dalam whatsapp dengan perasaan kecewa yang sangat sangat mendalam.

Sementara itu saya merasakan kemenangan yang sangat luar biasa, saya merasa melayang layang di udara, sama rasanya ketika saya menjuarai DOMBA CUP yaitu lomba sepak bola antar kampung yang berhadiah DOMBA tentunya.

Saya jadi ingat pepatah yang mengatakan :
“Harus cerdik bagaikan merpati, licin bagaikan ular” mungkin dari filosofi tersebut marzuwi mengarang cerita rumor tentang nama eman kepada saya. Dan saya rasa teknik itu akan berhasil ketika saya sudah pulang dari toko buku ketika dia mangatakan “Dia hanya ngarang”.

Tetapi karena saya orangnya baik hati, tidak sombong Dan sedang berbahagia. Pada akhirnya saya tetap membelikan buku tersebut, karena Bagaimana pun kita harus menghargai usaha seseorang, karena saya tahu dia sudah berusaha sangat keras sekali untuk menipu saya.

Bersambung...


Ditulis : Eman Junot
Bandung, 19 juni 2018

No comments:

Berkomentarlah dengan sopan. dan jangan meninggalkan SPAM

Powered by Blogger.